Google mulai menggulirkan sistem Android Developer Verification pada April 2026 melalui Android Developer Console baru dan Play Console. Tujuannya adalah menutup celah yang sering dimanfaatkan malware dengan menyamar sebagai aplikasi biasa—Google mencatat bahwa aplikasi dari sumber ketiga 90 kali lebih mungkin membawa malware daripada yang berasal dari Play Store. Dengan verifikasi, developer harus mengonfirmasi identitas mereka sebelum tetap bisa mengunggah atau mendistribusikan aplikasi.

Bagaimana verifikasi bekerja

Timeline rollout & pembatasan sideload

Google membagi rollout ke beberapa fase supaya developer dan pengguna memiliki waktu adaptasi:

Mode transisi sideload untuk pengguna

Google menyiapkan Advanced Mode agar sideload tetap bisa dilakukan tanpa membahayakan mayoritas pengguna:

Langkah-langkah tersebut membuat hanya pengguna yang benar-benar memahami risikonya yang bisa memasang aplikasi dari luar Play Store setelah verifikasi diwajibkan, sementara orang lain tetap terlindungi tanpa perlu menambah kerumitan.

Konteks dan pendapat dari komunitas

Google menyebut sistem ini sebagai keseimbangan antara keterbukaan Android dan keamanan yang lebih kuat. Namun beberapa grup (termasuk koalisi Keep Android Open) memperingatkan bahwa registrasi dan pemeriksaan identitas bisa menjadi penghambat bagi pengembang independen atau proyek open-source kecil.

Untuk pengguna Android di Indonesia

Sumber: Infosecurity Magazine — "Google Introduces Android Dev Verification"; Dev.ua — "Google now requires Android developers to verify their identity" (2 April 2026).